Daftar Peserta Festival Karya Tari

  1. Kab. Mojokerto. “Dharma”. Kekecewaan Karna, yang lahir tanpa kasih sayang ayah. Dimana aku berpijak, disitulah aku berdharma. Penata Tari: Suliyat, SPd. Penata Iringan: Sumarji, S.Pd. Penata Rias/Busana: Anita.

  2. Kab. Madiun. “Mbereg”. Artinya: Angon atau menggembala. Penata Tari: Surati, SPd, Penata Musik: Okta RW, Penata Rias/Busana: Dra. Titik Sugiarti.

  3. Kab. Malang. “Horop-Horop”. Gambaran kehidupan wanita desa yang bekerja keras penuh semangat demi tetap mengebulnya asap dapur. Namun di balik itu semua, masih tersimpan kecantikan dan kelembutan yang mengiringi kesehariannya. Penata Tari: Ade Irma. Penata Musik: Samad. Penata Artistik Dewo.

  4. Kab. Sampang. “Tari Moang Aib”. Perihal betapa malu manakala aib diketahui orang. Jangan sampai melakukan aib. Penata Tari: Drs. Bambang Hariyanto, M.MPd, Penata Musik: Drs. Bambang Hariyanto, M.MPd, Penata Rias/Busana: Dra. Aning Sriwulandari.

  5. Kab. Bangkalan. “Adhente”. Gerak tari para wanita nelayan ketika menunggu suami pulang melaut. Penata Tari: Menik. Penata Musik: Irawan Haryono. Penata Rias/Busana: Menik.

  6. nn

  7. Kab. Magetan. “Dewi Surya Kencana”. Seorang prajurit perang, Dewi Aisyah, pejuang jaman penjajahan, yang tanpa tanding, namun harus tetap terjaga kodrat kewanitaannya. Penata Tari: Endro Tri Wibowo, SSn. Penata Musik: Sartono, SPd. Penata Busana: Sri Utami, SPd.

  8. Kota Blitar. “Tari Widuwati”. Sosok wanita yang menguasai berbagai kecakapan (widuwati). Penata Tari: Lantip. Penata Musik: Wandono. Penata Rias/Busana: Ny. Sulistyani.

  9. Kab. Lumajang. “Alit”. Akronim dari Abot, lelah dan sulit. Menggambarkan kehidupan di desa Sombo Kec. Guci Alit, yang terkenal sulit mencari air. Penata Tari: Amin Supriyatin, SPd. Penata Musik: Robiyanto, SPd. Penata Rias/Busana: Yuli Surani, SPd.

  10. Kab. Probolinggo. “Pangmosek”. Karya baru yang berangkat dari tari Glipang yang kian terpuruk. Pang kependekan dari Glipang. Mosek, artinya bergeser. Penata Tari: Giyono EL-Gibran. Penata Iringan: Giyono EL-Gibran. Penata Rias/Busana: Dedy EL-Gibran.

  11. Kab. Sidoarjo. “Shilalahe”. Prosesi suci tuk mengundang-Nya. Terucap melalui lafal dan syair. Penata Tari: Achmad Fatoni, SPd. Penata Musik: Hendro Novi Prabowo. Penata Artistik/Busana: Budi Alfan.

  12. Kota Probolinggo. “Bener”. Kegiatan mencari nener (anak ikan bandeng) dengan jaring. Penata Tari: Drs. Peny Priyono, SPd. Penata Musik: Prasetyo. Penata Artistik: Muklis Ariadi, Spd.

  13. Kota Malang. “Barong Cethik”. Tari anak-anak, yang mengambil inspirasi dari tari Jaran Kepang. Penata Tari: Suthak Wardhiono. Penata Musik: Dennis Suwarno. Penata Rias/Busana: Agustin Nanis S.

  14. Kota Pasuruan. “Nampeh Beres”. Mengungkapkan gadis-gadis remaja dalam kegiatan membersihkan beras dalam tampah. Penata Tari: Intrasminah. Penata Musik: Slamet Juhanto, SPd.

  15. Kab. Ponorogo. “Tetanen”. Potret kehidupan masyarakat agraris dalam segala suka dukanya. Penata Tari: Wisnu Hadi Prayitno. Penata Musik: Yateni Widodo, SSn.

  16. Kab. Gresik. “Tilasan Cempo”. Penggambaran silang budaya/pembauran etnis yang ada di Gresik, dengan tampilan gerak dan alunan musik, diilhami keberadaan petilsan Puteri Cempo. Penata Tari: Lusiyanah. Penata Musik: Cahyono Yhudiatmadji. Penata Artistik: Aria Roedijanto.

  17. Kab. Pamekasan. “Paksa Kenneng Dhibi’”. Olah artistik aktivitas para perawan Madura. Penata Tari: Elies Mei Yuliana, S.Pd. Penata Musik: Marsiono X. Penata Rias/Busana: Evy Setiawati Sukmana, S.Pd.

  18. Kota Batu. “Kembang Rekesan”. Olah gerak aktivitas wanita-wanita perkasa, pekerja kebun apel ujung Desa Rekesan. Penata tari: Winarto, SSn, Penata Iringan: Wawan. Penata Rias/Busana: Winarto, SSn.

  19. Kota Mojokerto. “Tari Cethik Manes”. Penata tari: Tavia Dewi Yulaikah, S.Pd. Penata Musik: Didik. Penata Busana: Tavia Dewi, yanti Yananta.

  20. Kab. Pacitan. “Mbok Cilek”. Perihal sosok perempuan desa. Penata Tari: Edi Suwito. Penata Musik: A’ank Wiyatmoko. Penata Artistik: Adi Peni S.Pd.

  21. Kab. Blitar. “Momong”. Tentang kegiatan menimang bayi oleh ibu-ibu. Penata Tari: Novyta Mijil Purwana. Penata Musik: Yogik Adrianto. Penata Artistik: Zahrian Zakaria, Eko.

  22. Kab. Tulungagung. “Tandingan”. Mengekspresikan keberannian, kegagahan dan ketangguhan para Jawara Tiban ketika pertandingan digelar. Tari tradisi Tiban biasanya dimainkan untuk mendatangkan hujan. Penata Tari: Bimo Wijayanto. Penata Musik: Tri Wibowo.

  23. Kab. Nganjuk. “Mah Kawit”. Perihal harta dan tahta, yang dipuja dan dicinta, namun tinggallah kesedihan dan kesendirian manakala ditinggalkannya. Penata Tari: Ratri Mulyandari, A.Md. Penata Musik: Kokok Wijanarko. Penata Artistik: Kristin Ratnawati.

  24. Kab. Lamongan. “Tari Caping Ngancak”. Diangkat dari suasana petani saat bercocok tanam sampai dengan panen, yang selalu mengenakan caping atau topi yang khas. Penata Tari: Tri Kristiani, SSn. Penata Musik: Purnomo, SSn.

  25. Kab. Jombang. “Laskar Besut”. Ekspresi gerak pemain dan tokoh Besut yang biasa ada di ludruk. Penata Tari: Dian Sukarno. Penata Musik: Madun.

  26. Kota Surabaya. “Anteb ing Kalbu”. Kehidupan wanita yang penuh dengan kesengsaraan, selalu tertindas oleh kejamnya jaman. Penata Tari: Vivin Eka Indrawati. Penata Musik: Wahyudi. Penata Artistik/Busana: Aditya Kurnia Dewi.

  27. Kab. Trenggalek. “Wanudyo Sinawang”. Wanita adalah sosok yang lemah, gemulai, dan lembut, kadang menjemukan. Kadang pula muncul sifat egois, sinis dan romantis. Dunia tanpa wanita ibarat malam tanpa bintang. Wanita selalu dipandang “Wanudyo Sinawang”. Penata Tari: Sri Mulatsih, Sutyono. Penata Musik: Sarji. Penata Rias/Busana: Juyun.

  28. Kab. Jember. “Nyah Gempeng”. Perihal sosok wanita pekerja keras pencari batu gamping. Penata Tari: Sulistyowati. Penata Musik: Wawan. Penata Busana: Seviana Lestari.

  29. Kab. Sumenep. “Ron Toron”. Sebuah episode penari tandak. Penata Tari: Agus Widodo, S.Pd.

  30. Kab. Tuban. “Katresnan Jati”. Cinta sejati mampu mengalahkan sifat jahat. Cinta sejati tumbuh dari lubuk hati. Menjadi kekuatan pejuang, dan bara api membasmi angkara murka. Penata tari: Dwi Wuryaning Rahayu. Penata Musik: Kelompok Keras tanpa S. Penata Artistik: Fan Royen.

  31. Kab. Situbondo. “Ka Sombher”. Aktivitas remaja saat mengambil air, beserta segala keceriaannya. Penata Tari, Musik: Toro. Penata Busana/Rias: Novi Julaikah.

  32. Kota Kediri. “Rampak Lenggok Barong”. Garapan baru yang bersumber dari tradisi tari Barong. Penata Tari: Endah Pusporini, SPd. Penata Musik: Sohinanto, SP. Penata Busana: Suprantiyo.

  33. Kab. Banyuwangi. “Lencir Kuning”. Perjuangan mewujudkan kesucian diri dan kepribadian perempuan. Penata Tari: Subari Sufyan. Penata Musik: Sunardiyanto. Penata Artistik: Restu Alfianto

Tim Pengamat:

  1. Agus Heri Sugianto, SPd

  2. Dimas Pramuka Atmadji

  3. Sabar SSn.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: