Lomba Patung Hanya 5 Peserta

Baru kali pertama diselenggarakan, lomba membuat patung benda cagar budaya hanya diikuti oleh 5 (lima) peserta. Tim Pengamat/juri terdiri dari:
1.Totok Priyoleksono, M.Sn, seniman patung, dosen STKW Surabaya
2.Drs. Santoso, pematung
3.Drs. Bagus Trimatra, dosen UK Petra Surabaya

Kelima peserta itu adalah:
1.Galih Priyomukti, SDN Bareng III, Malang, kelas IV. Anak pertama dari dua bersaudara ini tinggal di Bareng Kulon VI-889 Kota Malang. Pernah menjadi juara I Lomba Patung se-Kota Malang, kali ini membuat karya patung dari bahan batu bata yang digergaji dan disusun sedemikian rupa sehingga menjadi Candi Bentar atau gapura candi. Kelahiran 8 November 1997, anak seorang arsitek ini malah bercita-cita jadi pemain band. “Soalnya saya suka main gitar,” ujarnya.

2.Nandala Erista Darmawati. SDN Ngaglik I Kota Batu, kelas V. Tinggal di Jalan Dewi Sartika, lahir 30 Januari 1997, pernah menjadi juara I Lomba Patung se-kota Batu. Kali ini, anak kedua dari dua bersaudara ini membuat patung Arca Ganesha dari bahan lilin malam. Belajar membuat patung dari Bapak Widodo, gurunya, anak perempuan yang sudah tak punya ayah ini bercita-cita menjadi arsitek.

3.Bayu Krisna Mukti. SDN Patmalasan I Trenggalek, kelas V. Pernah ikut lomba patung di Trenggalek, meski belum beruntung menang. Anak seorang guru, dua dari tiga bersaudara, kali ini memanfaatkan lilin malam untuk membuat patung dengan bentuk tiga guci. Cita-citanya apa? Dia terdiam. Matanya menerawang, lantas tersenyum.

4.Igo Erfanda Putra. SDN Pucang Rejo Kabupaten Madiun, kelas V, lahir 20 April 1997, anak kedua dari dua bersaudara. Kali ini dia membuat patung Wisnu Duta, dari bahan serbuk gergaji, lem kayu dan semen. Idenya didapat dari melihat patung-patung yang ada di Trowulan. Pernah ikut lomba patung di Surabaya, tapi kalah. Ditanya cita-citanya, “mau jadi pematung,” jawabnya. Kok tidak jadi dokter? “Ya, dokter juga bisa,” ujarnya disusul tawa.

5.Ahmad Sunaryo. SD Talun, Rejoso, Nganjuk, kelas V. Anak tunggal dari seorang petani ini membuat patung Penari Kerajaan yang modelnya, “ngarang sendiri,” katanya. Biasanya dia suka membuat patung untuk mainan. Belum pernah ikut lomba, ya baru sekali ini. Trus, cita-citanya apa? “Mau jadi polisi,” jawabnya tegas. Ternyata, ada familinya yang memang seorang anggota polisi.

Pengumuman pemenang dan pembagian hadiah dilakukan hari Jum’at, 23 Mei 2008 pada acara penutupan Budaya Adhikara II. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: